YA….. SAYA ISLAM, SAYA INDONESIA DAN SAYA RADIKAL

Assalamu’alaikum teman-teman. Mungkin semua pada bingun dengan judulnya. Tenang, itu hanya judul jangan salah paham dulu. Kalau kalian menilai bahwa judul tersebut merupakan dasar untuk menyatakan bahwa saya radikal maka tidak heran ketika banyak yang menyatakan bahwa islam identik dengan teroris. Sangat miris kondisi negri saat ini hingga saya mencoba beropini untuk mengeluarkan uneg-uneg saya dalam hati. Dan muncullah ide untuk membuat opini ini.

Benar, saya memang Islam dan saya bangga dengan itu. Saya Islam sejak lahir, bisa dikatakan kalau saya adalah orang Islam keturunan.

“Meski keturunan bukan berarti  saya tidak berusaha mencari tahu tentang Islam dengan benar.”

Saya berusaha menjadi orang Islam yang baik. saya sejak kecil diajarkan bahwa Islam itu baik dan selalu mencintai perdamaian. Sejak kecil selalu diarahkan untuk terus bersikap toleransi. Dan yang terpenting selalu diminta agar selalu mencintai bangsa dan negara ini sepenuhnya. Hingga akhirnya saya merasa bahwa Islam adalah menjadi pembimbing bagi saya untuk mencintai bangsa dan negara ini dengan setulus-tulusnya. Saya tidak pernah merasa bahwa Islam berusaha menghancurkan negara ini. Saya tidak pernah melihat Islam mengajarkan itu, itu pandangan dari siapa???.  Islam datang untuk semua manusia di muka bumi. Ini menunjukkan bahwa Islam itu memiliki keistimewaan untuk menjadi agama yang menebarkan kedamaian. Namun sangat miris ketika banyak oknum yang mengatasnamakan Islam untuk menimbulkan keributan. Hingga diperkuat dengan berbagai macam media yang terus mengumbar kegiatan-kegiatan oknum tersebut. Sehingga menciptakan pandangan yang salah dikalangan umat manusia. Menyebabkan munculnya pendapat yang menyatakan bahwa teroris identik dengan Islam. Padahal ada ribuan teroris lainnya yang berasal dari berbagai macam agama.

“Apakah penistaan saudara saya di Rohinya bukan bentuk terorisme??? Siapa yang melakkan??? Apakah orang Islam??? Atau justru orang islam yang teraniyaya???. Siapa yang sengsara di timur tengah???. Dengan saling lempar melempar bom yang terjadi disana, siapa yang menderita???”

Kekuatan media dalam menyerbu oknum yang mengatasnamakan Islam hingga menbentuk pandangan Islam identik dengan teroris tidak hanya berasal dari berita semata. Bahkan diberbagai film yang berbau teror sangat banyak memisalkan nama-nama pelaku teror dengan nama Islam. Serta selalu saja dimisalkan berasal dari negara timur tengah yang merupakan negara mayoritas muslim. saya tidak pernah merasa malu ntuk menyatakan bahwa saya adalah Islam. Saya bangga meski banyak fitnah menyerang. Terorisme itu untuk dihukum bukan untuk dipertontonkankepada masyarakat. Dengan alsan untuk memberi informasi agar bisa berhati-hati, justru menjadi boomerang dengan membentuk pemahaman yang salah serta menjadikan masyarakat merasa was-was dan tidak tenang. Sebagai Muslim saya sangat tidak sepakat dengan teror dan itu final tidak bisa dirubah dan tidak bisa diganggu gugat.

“Saya belajar islam tidak untuk bersikap diskriminasi terhadap siapapun. Islam mengajarkan saya berbuat adil kepada siapapun. Islam mengajarkan saya untuk bersikap tolerasi kepada siapapun. Saya diajari untuk menjadi warga negara yang baik. Namun, mengapa masih saja banyak anggapan bahwa teroris itu mesti Islam.”

Bicara tentang Indonesia, sangat jelas  bahwa Islam selalu mengajarkan saya untuk cinta terhadap Indonesia. Saya sangat bangga menjadi Indonesia. Saya besar di Indonesia, saya sekolah di Indonesia, dan saya juga ingin mati di Indonesia. Bagi saya Indonesia adalah bangsa dan negara saya yang tidak akan pernah saya sakiti. Saya tidak akan pernah rela kekayaan negri ini disedot oleh luar tanpa menghasilkan keuntungan bagi  bangsa ini. saya sangat tidak sepakat ketika ada orang yang meremehkan negara Indonesia. Bagisaya toleransi di negri ini itu selesai dan tinggal menjalankan bukan bingung diumbar di media. Bagi saya Pancasila itu final. Saya sangat kecewa ketika Pancasila menjadi alasan untuk menjatuhkan satu sama lain.

“Saya sangat percaya bahwa Inndonesia adalah negara dengan tingkat perdamaian tertinggi.”

Namun justru banyak terusak karena pandangan yang terbentuk secara salah. Berita yang seharusnya informatif menjadi berita yang mengancam.

“Saya cinta Islam. Saya cinta Indonesia. Sayang bangga dengan menjadi Muslim. saya bangga menjadi warga negara Indonesia.”

Bagaimana mungkin saya tidak dianggap radikal. Saya radikal terhadap Islam dan radikal pula terhadap Indonesia. Hingga saya sangat berusaha memahami Islam dan Indonesia hingga keakar-akarnya. Saya mencoba meluruskan bahwa radikal berasal dari bahasa latin radix yang artinya akar. Sehingga radikal adalah pemaham yang mendasar hingga keakar-akarnya.

“Apakah salah ketika saya memahami Islam hingga keakar-akarnya???. Apakah salah saya mencintai indonesia hingga keakar-akarnya???.”

Saya sangat bangga dengan Islam karena telah mengajarkan kepada saya untuk bangga menjadi Indonesia.

“Saya menyatakan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah harga mati. Pancasila adalah dasar negara yang sah. Ya…. Saya Islam, Sya Indonesia dan Saya radikal.”

Be Sociable, Share!

One comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *