TIGA BANGUNAN DIMENSI NEGERI INDONESIA : DJIHAD, DEMOKRASI DAN PERSATUAN

Oleh : AfaSubekti

Indonesia sedang ramai dengan ketiga masalah yang ada diatas. Entah sebuah kebetulan atau sebuah dimensi yang sengaja diciptakan hingga membutakan masalah yang lebih besar di luar sana. Saya benar-benar tak mengerti berawal dari mana semua permasalahan tersebut. Namun perlu diketahui bahwa “Permasalahan tidak akan pernah ada habisnya dan bahkan seolah berusaha berinovasi untuk meuncul dengan bentuk yang lain”. Sangat disayangkan jika solusi yang ditawarkan hanya stagnan dan hanya itu-itu saja. Seolah ide solusi atau pemecahan buntu untuk berinovasi di dalam kejaran inovasi masalah.

“Semakin sering pertunjukan Djihad yang tampil di depan mata kita dan suara bising terdengan ke telinga kita yang menyatakan bahwa Djihad adalah angkat senjata bunuh yang menurut Mujahid salah dan bela yang menurut Mujahid benar”. Pertunjukan dan suara yang seolah mengerucutkan nilai dari arti Djihad itu sendiri. “Demokrasi juga hanya sebatas orasi, Demonstrasi dianggap sebuah effect Demokrasi, Bebas bersuara seolah akibat dari sistem Demokrasi”. Jika memang seperti itu mengapa Sistem ini diciptakan, yang ujung-ujungnya hanya untuk kita salahkan. Sistem yang terbentuk melalui proses dan percobaan yang cukup pangjang hanya dengan mudah dijatuhkan dengan sebuah arogansi uang. “Uang saat ini telah menjadi Sistem ciptaan yang menjelma menjadi Pencipta”. Persatuan yang terus terdengung dalam Negeri ini seolah hanya sebuah Persatuan guna menjatuhkan kekuatan Persatuan Sejati. “Nilai Persatuan yang masih dianggap semacam semua harus sama, sesuai dengan saya jika kamu berbeda dengan saya maka kita belum berstau”.  Benarkah masih seperti itu pandangan kita tentang Persatuan, atau justru terus setia dengan Bhineka Tunggal Ika.

DJIHAD

Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Jihad

Berdasarkan Wikipedia Indonesia berjuang sungguh-sungguh adalah djihad. Berusaha menegakkan Agama Allah dengan sungguh-sungguh. Menegakkan agama tidak hanya dengan mengangkat senjata. Namun menjadi khalifah dimuka bumi dengan menjaga bumi dengan baik serta memanfaatkannya dengan baik pula juga bisa dikatakan sebagai Djihad. Selama semua itu dilakukan dengan tujuan untuk beribadah kepada Allah.

Sumber : https://en.wikipedia.org/wiki/Jihad

Dalam versi baha inggris ada sedikit perbedaan. Awalnya mungkin penjelasannya masih serupa dengan versi indonesia namun ketika pada kalimat “In classical Islamic law, the term refers to armed struggle against unbelievers, while modernist Islamic scholars generally equate military jihad with defensive warfare”. Mereka mengatakan jika hukum Djihad masa lampau mengacu pada perjuangan bersenjata melawan orang kafir, sementara ulama’ modern menyamakan Djihad dengan perang defensif. Rasulullah SAW tdak pernah memerintakan pasukan perang untuk menyerang lebih dahulu atau bahkan Beliau tidak pernah untuk mengajak berperang sebelum ditantang dan diganggu. Bahkan Rasulullah SAW berperang karena perintah dari Allah SWT.

Pada kalimat lain di wikipedia dalam versi inggris adalah  “Islamic jurists and other ulema of the classical era understood the obligation of jihad predominantly in a military sense”. Seolah ulama’ klasik Islam lah yang bertanggung jawab terhadap kejahatan saat ini yang mengatasnamakan Islam. Pertanyaannya mengapa dengan mudah media mengeksplor bahwa Djihad adalah serupa perang atau penegakkan Islam dengan mengangkat senjata???

Ketika bicara bahwa para teroris terpengaruh oleh iming-iming Djihad ketika melakukan kegiatan terot, tentu tidak bisa semerta-merta mengatakan bahwa Djihad menjadi pengaruh terhadap kegiatan teror. Bagaimana bisa Djihad dianggap sebuah pengaruh sebuah teror yang sering terjadi smentara banyak penyebab yang justru dihilangkan di kalayak umum. Kasus 9/11 misalnya hanya sekedar karena Video Osama Bin Laden terkejut melihat dampak yang dihasilkan oleh peristiwa tersebut dengan mudahnya Osama Bin Laden dituduh menjadi dalang peristiwa tersebut.

Taliban yang mengawali kegiatan untuk menyelamatkan warga Afghanistan dari tindak kejahatan yang banyak terjadi di Afghanistan dan ketika mereka diakui dan dihormati warga Afghanistan, tiba-tiba diserang dengan dalih memberontak dengan pemerintah. Padahal pemerintah tidak ada yang berani menumpas kejahatan di Afghanistan sehingga Taliban yang turun tangan. Bahkan dengan mudahnya Taliban divonis menjadi sebuah gerakan teroris. Kasus yang terjadi Sadam Husain terbunuh karena dianggap memiliki sejata pemusnah masal (meski belum terbukti).

Indonesia saat ini menjadi sasaran pada teroris karena dianggap Islam di Indoneisa mudah untuk terpengaruh oleh Djihad dengan cara berperang. Tentu saja itu tidak benar, Umat Islam di Indonesia lebih memaknai Djihak sebagai sebuah perjuangan dalam berbegai bidang untuk kepentingan fungsi manusia dalam tugas hidupnya sebagai Khalifah di Bumi. Namun sangkut paut kata Islam dalam kasus teroris yang terjadi di Indonesia justru menyudutkan Islam. Seolah media berusaha menghipnotis penonton untuk percaya bahwa teroris itu dilakukan oleh Islam, ini sangat membahayakan. “Karena segala sesuatu yang dikatakan secaar berulang akan mejadi seolah benar untuk kita”. Selain Kata Islam yang banyak di identikkan dengan teroris Kata Djihad juga ikut digunakan seperti kalimat yang mengatakan bahwa teroris yang tertangkap terbukti mengoleksi buku-buku tentang Djihad. Apa maksunya…?? apa jika orang yang memiliki buku tentang Djihad itu merupakan teroris atau kemungkinan besar akan menjadi teroris???  Ini sangat mengherankan.

DEMOKRASI

Demokrasi adalah kekuasaan ditangan rakyat. Maskudnya pun juga tak semudah itu. Rakyat bertugas mengawal pemerintak yang memenejemen sebuah negara. Jadi managernya adalah pemerintah dan yang jadi pengawas adalah Rakyatnya. Namun Demorasi sring disalahkan karena banyaknya Demo yang terjadi. Demo tidak bisa dikatakan akibat dari Demokrasi, Demo tidak bisa dikatakan karena Demokrasi. Demokrasi dijalankan agar Pemerintahan yang merupakan manager tidak sewenang-wenang. Pemerintah merupakan sebuah Managemen sebuah negara.  Pemimpin dalam sebuah management pemerintahan adalah Presiden. Presiden bukanlah sebuah penguasa atau pemilik sebuah negara. Presiden hany sebatas pemimpin dalam sebuah Managemen.

Ketika sebuah managemen ada yang salah apa yang akan dilakukan oleh Pengawas, tentu akan mengingatkan agar segera diperbaiki. Jika managemen tidak menggubris ketika diingatkan oleh pengawasnya tentu akan ada tindakan lainnya. Semisal peringatan, dan peringatan jika dalam sebuah managemen perusahan merupakan hal yang paling akhir sebelum pemecatan. Namun dalam sebuah Negara masih ada hal lain semacam peringatan keras semacam Demo. Intinya Demo bukanlah akibat atau karena Demokrasi, melainkan sebuah tindakan karena Pengawas Negara (Rakyat) merasa tidak digubris. Jika ada DPR sebagai wakil Pengawas tentu juga hanya sebatas Wakil jika Pengawas tidak merasa terwakilkan tentu peran wakil menjadi hambar atau tidak ada gunanya.

Demokrasi bukan hanya sekedar Orasi, bebas bersuara juga bukan karena akibat demokrasi. Demokrasi memiliki nilai lebih yakni sebuah sistem untuk memakmurkan semuanya yang terlibat di dalamnya. Mulai dari Pengawas, Wakil Pengawas, dan Mangemennya. Jika salah satu bermasalah tentu harus dibenarkan. Itulah fungsi adanya pengadilan dalam sebuah menegemen Negara (pemerintah) guna memberi hukuman pada yang salah. Pengadilan tentu harus bertindak adil kepada semua lini (Pengawas, Wakil Pengawas dan Managemen) jika salahnya berat yang hukumannya berat dan yang salah ringan ya hukumannya ringan.

PERSATUAN

Persatuan tentunya sangat penting bagi Indonesia karena memiliki slogan Bhineka Tunggal Ika dan itu adalah makna persatuan yang sesungguhnya. Medapatkan hak yang sama pada semua ras, suku, dan agama. Dalam segi ras, ras yang saat ini sedang getir-getir adalah ras cina. Apakah karena kasus penistaan agama yang baru-baru ini terjadi??? Menurut saya bukan. Karena kasus penistaan agama bukan masalah ras, hanya segelintir oknum saja yang menyebabkan itu menjadi urusan ras juga. Kalau kita bicara ras cina, tentu tidak bisa hanya terfokus pada komunisnya atau berasal dari Republik Rakyat Tiongkok (RRT) saja. Sejak Zaman Indonesia belum ada saja atau zaman Nusantara Banyak orang ras cina yang seudah ada di Kepulauan Nusantara untuk berdagang dan itu baik-baik saja tidak ada masalah dengan penduduk kerajaan yang ada saat itu. Sebenarnya yang rasislah yang menjadi oknum dalam hal ini yang menyebarkan perpecahan nilai Persatuan dalam Negri ini.

Suku  yang ada di Indonesia sangat banyak sekali mulai dari sabang sampai merauke. Ada ratusan bahkan ribuan. Bahkan persatuan yang terjadi antara suku yang ada di Indonesai mungkin akan mejadi sebuah Persatuan terhebat sepanjang sejarah. Suku yang memiliki adat, kebudayaan, hukum bahkan kepercayaan (dalam arti pemahaman) yang berbeda bisa menjadi satu  dalam satu Negara, Satu Bendera dan Satu Bahasa yakni Indonesia.

Persatuan dari segi agama sering dianggap menyimpang dengan toleransi dan hak asasi manusia. Toleransi tidak harus mentolelir semuanya. Semisal larangan agama yang jangan ditolelir dengn mengatakan demi toleransi dalam beragama. Toleransi itu bukan memaksakan untuk melanggar hukum yang ada pada Agama, melainkan menghormatinya. Hak Asasi Manusia seolah lebih sering dipertimbangkan untuk orang yang bersalah, bukan yang menjadi korban. Misalnya pembunuhan massal yang dilakukan secara sengaja dan tanpa adanya alasan yang jelas justru si pembunuh yang seharusnya medapatkan hukuman berat karena Hak Asasi Manusia bisa mejadi ringan, Korban yang terbunuh haknya kemana??. Koruptor yang memiskinkan banyak orang justru mendapatkan hukuman yang lebih ringan juga karena Haknya, terus hak rakyat yang uangnya dikuras gimana???.

————————————

Sebuah dimensi yang ada di Indonesia seolah entah sengaja dibangun atau memang terbangun dengan sednirinya. Djihad yang memiliki makna yang baik seolah disalahkan menjadi pengaruh buruk yang menyebabkan banyaknya teroris. Demokrasi yang sebenarnya memiliki makna yang baik justru dianggap berpengaruh terjadinya anarkisme yang terjadi saat demo. Persatuan yang sebenanya justru sedang dibangun seolah dianggap sebagai penyebab adanya pemberontak untuk memecah persatuan, toleransi yang cenderung memaksa bukan menghormati, Hak yang cenderung berlaku pada pelaku bukan korban. Tentu sangat miris ketika jika semua ini terus berlanjut gsa tentu saya masih ingin menikmati indahnya Djihad dengan cara yang benar jika suka bertani Djihad dengan bertani, Jika nelayan Djihad dengan menjadi Nelayan, Jika Guru Djihad dengan menjadi guru yang baik, dan lain sebagainya. Saya juga masih ingin menikmati indahnya berdemokrasi dengan sempurna, menikmati sebuah sistem Demokrasi yang menjalankan sebuah negara menjadi negara yang damai, makmur dan sejahtera. Saya juga tetap ingin merasakan indahnya Persatuan dengan toleransi untuk saling menghormati dan keadilan dalam menjalankan Hak.

Be Sociable, Share!

One comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *