TERSERAH, NEGRI INI MILIK KITA

Entah mengapa, kerusakan lingkungan nampaknya memang menjadi mmasalah yang amat sangat menyebalkan. Mungkin negri ini memang harus dijual terlebih dahulu untuk mengerti bahwa tanah ini butuh hijaunya tumbuhan, sungai butuh jernihnya air, udara butuh segar saat terhirup. Mungkin penghuni negri ini sedang asyik menikmati kebebasannya dari belengu kolonialisme beberapa puluh tahun lalu. pertanyaannya, SAMPAI KAPAN???

Negri ini termasuk dalam Cincin Api Pasifik. Posisi tersebut menjadikan negri ini amat sempurna, bahkan bisa disebut sebagai serpihan surga. Benarkah??? Tanah di negri ini amat sangat subur. Segala jenis tanaman bisa tumbuh di negri ini. Memiliki ribua sumber mata air, memiliki hutan tropis sebagai pemasok oksigen di bumi yang amat luas, memiliki keanekaragaman hayati yang amat lengkap. Apa yang kurang dari negri ini. Pemandangan serbahijau sangat mudah dijumpai. Namun, dengan menjadi negri yang amat subur inilah mengapa negri ini juga menjadi negri yang amat berbahaya. Berada di daerah cincin api membuat negri ini memiliki ribuan gunung api yang siap meletus kapan saja dan meluluh lantakkan negri ini. Inilah negri yang masih tersebut sebagai serpihan bukan surga sepenuhnya karena masih ada sisi mengerikan dari negri ini. Bencana sering terjadi karena memang berada pada posisi yang rawan akan terjadinya gempa.

Negri ini memiliki gunung api yang tercatat dalam sejarah sebagai gunung api yang menyebabkan kerusakan terparah di dunia. Gunung purba toba yang sekarang menjadi danau toba, pernah meletus besar hingga menyebabkan penurunan suhu bumi hingga 5 – 10 derajat celcius. Ada gunung tambora yang letusannya menyebabkan 3 kerajaan di sekita gunung itu lenyap. Ada gunung krakatau yang pada letusan pertamanya menyebabkan tepisahnya sumatra dengan jawa, kemudian tumbuh kembali dan meletus hingga menyebabkan puluhan ribu orang kehilangan nyawa. Sungguh, negri ini amat sempurna karena seimbang. Negri yang amat subur namun juga menjadi negri yang amat berbahaya karena rawan bencana.

Bangsa ini nampaknya sudah terbiasa dengan bencana. Entah sudah berapa ribu kali bencana tercatat terjadi di negri ini. Penduduknya masih saja bisa bangkit dan hidup kembali. Bangsa ini telah sadar bahwa bahaya di negri ini selalu mengancam, tetapi mereka selalu yakin bahwa ada cahaya setelah kegelapan. Bencana sudah menjadi hal biasa karena mereka mengerti bahwa akan ada jaminan untuk bangkit kembali di negri ini. Namun inilah yang akan menjadi boomerang bagi bangsa ini.

BACA JUGA :

Menjelang Tidur

Merasa ada jaminan bangkit dan hidup kembali setelah adanya bencana membuat bangsa ini menjadi bertindak seenaknya. Moral mereka untuk melindungi kekayaan alam negri ini menjadi semakin tipis. Yang tumbuh dalam pikiran mereka adalah menikmati kekayaan alam bukan memanfaatkan. Ketika sudah menikmati mereka akan lupa melestarikan. Tebang pohon sembarangan, bangun gedung  seenaknya, bahkan buang sampah sesukanya. Ada berapa rubu hutan gundul di kalimatan, dengan alasan digunakan sebagai lahan produktif. Ada berapa ratus bangunan dibangun setiap tahunnya di tanah jawa, dengan alasan infrastruktur tanpa peduli semakin menepinya hutan di jawa. Ada berapa ribu ton setiap harinya sampah yang dibuang sembarangan tanpa peduli apa yang akan terjadi nantinya. Kalau dikasih peringatan seberat apapun akan selalu mental, karena negeri ini butuh merubah moral dari penikmat menjadi pemanfaat.

Hutan yang bermafaat sebagai penghasil oksigen untuk kesegaran udara yang setiap hari kita hirup mereka rubah menjadi lahan produksi yang dianggap lebih mengasilkan uang. Ribuan bangunan dibangun agar ketika dilihat seolah seperti negara yang maju. Negri ini milik kita seolah menjadi boomerang untuk berbuatseenaknya. Tidak pernah berfikir bagaimana menjaga justru bagaimana menikmatinya. Penduduk negri ini sudah terkontaminasi dengan hal yang praktis, seperti uang. Punya pohon pisang tetapi ingin pisang goreng, yang dilakukan justru menjual buah pisang uang hasil penjualannya digunakan untuk membeli pisang goreng (begitu kata Bang Pandji). Ini yang menjadi masalah. Mereka seolah tidak mau berpikir untuk membuat sendiri dengan alasan praktis.

Butuh waktu panjang untuk merubah cara berpikir bangsa ini. Butuh waktu lama untuk membangun moral baik bangsa ini. Bangsa ini lebih takut pengawas dari pada aturan. Lebih takut dijaga dari pada dipantau. Lebih takut rugi dari pada ditindak. Sungguh kesadaran akan menjada lingkungan amatlah sangat penting, bukan untuk kita sendiri melainkan untuk seluruh manusia di muka bumi. Menciptakan tidak harus mematikan, membangun tidak harus menghancurkan, membenarkan tidak harus merusak.

Depan Televisi, Melihat bencana banjir dengan ribuan sampah yang mengapung

Be Sociable, Share!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *