SUPPORTER SEJATI

Tahun 2018 ini adalah tahun dengan agenda olah raga yang cukup banyak. Di tambah lagi banyaknya agenda olahraga yang melibatkan negara. Ya… Indonesia sedang berlaga di berbagai kompetisi olah raga. Dan terakhir kemaren ketika ada even Asian Games yang kebetulan di adakan di Indonesia. Saya sangat senang melihat penampilan para aatlet indonesia yang berhasil menduduki posisi ke empat dengan perolehan medali emas sebanyak 31 medali. Sebuah pencapaian yang di atas target yang telah diharapakan. Saya sangat senang melihat indonesia ketika berlaga. Seolah tak mau ketinggalan sedetikpun. Meski harus puas melihat di waktu-waktu tertentu karena harus bekerja.

Sebagai seorang Supporter saya berusaha mendukung meski hanya bisa melalui layar kaca televisi dan do’a. Sangat bangga melihat kerja keras mereka. Meski beberapa membuat kecewa karena harus tumbang di bawah target yang diharapkan. Sepak bola misalnya yang ditargetkan masuk 4 besar harus kandas di babak 16 besar. Bukan berarti permainan buruk melainkan memang lawan yang masih berada diatas kita.

Miris ketika saya melihat sikap dan nada-nada pesimistis dari penonton kita. Mereka merasa menjadi dukun dan paranormal mendadak. Yang sok-sokan memprediksi bahwa tim kita bakal kalah. Mereka seolah hanyut dalam dunia pesimistis ketika melihat lawan yang tampak kuat tanpa mendukung terlebih dahulu perjuangan para atlet. Saya yang berusaha apatis dengan hal-hal itu akhirnya jengkel juga.

Para supporter pesimistis ini seolah tahu apa yang terjadi nanti. Mereka seolah sudah yakin bahwa Indonesia pasti kalah pada suatu pertandingan. Terlebih mereka juga tidak mau kalah dengan komentator unik khas Indonesia, bahkan komentator pun sering kena komentar. Mereka berkomentar seolah mengerti kondisi para atlet yang begitu sekuat tenaga berusaha. Kalau jelek yang udah tak perlu membandingkan. Indonesia punya filosofi olah raga sendiri. Negara lain jangan jadikan perbandingan, jadikan sebagai acuan dan motivasi.

Saya sendiri memilih menjadi supporter sejati. Berorak-sorai, berjingkrak-jingkrak, berteriak-teriak, bahkan melompat-lompat ketika Indonesia menang. Namun akan sangat kecewa, marah, jengkel, tertunduk lesu, malas, dan sebagainya ketika kalah. Saya berusaha menjadi bagian dari para atlet ketika mendukung. Berusaha untuk menjadi teman bahagia ketika mereka menang, begitujuga menjadi teman susah dan sedih ketika mereka gagal menang.

Mendukung negara jangan memulu membandingkan. Kita harus memberi kekuatan dulu kepada para atlet melalui keyakinan kita yang menonton untuk menang. Tidak perlu memprediksi sesuatu yang belum terjadi. Kita harus jadi pendukung yang sejati, bukan pendukung yang merasa paling tahu hasil suatu pertandingan hanya dari pandangan kita. Sebagai supporter sejati kita harus Ikut senang kala menang dan ikut sedih kala kalah.

Kamar, saat jengkel sama paranormal dadakan

Be Sociable, Share!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *