SAMPAH ADALAH PUPUK BUMI

Beberapa waktu lalu saya sedang asyik mengendarai sepeda pulang dari tempat kerja. Tanpa sengaja melihat kejadian yang sungguh miris. Seorang anak sedang enak memakan cilok yang terbungkus plastik dan kresek putih. Selama beberapa menit saya mengikutinya cilok yang dia makan akhirnya habis juga. Dan tanpa menoleh kanan kiri. Seolah sudah terbiasa dan sudah menjadi kebiasaan yang tertanam di alam bawah sadarnya. “kresek” begitulah bunyi kresek dan plastik bekas wadah cilok yang jatuh tepat berada di kiri jalan karena dilempar secara sengaja dan kesadaran penuh. Seolah anak ini benar – benar menganggap kegiatan itu adalah kegiatan yang biasa dilakukan. Dan sering dia lihat dilakukan oleh banyak orang pula. Sontak saya yang berada di belakang sepedah motornya kaget melihat seorang anak berseragam sekolah (salah satu sekolah ternama di sekitar daerah saya) dibonceng bapaknya dengan santai membuang sampang tidak pada tempat yang tepat. Namun, sepertinya menurut si anak ini itulah tempat yang tepat untuk membuang sampah. Saya tak tahu?

Besoknya saya sedang berangkat ke tempat kerja, tepat jam 05.45 dari rumah. Saya berangkat dengan semangat untuk bekerja. Bebeapa menit saya berkendara hingga akhirnya sampai di jalan raya, tiba-tiba “klotak” sebuah benda terlempar dari jendela sebuah mobil dengan plat nomor luar kota saya. Sontak saya berusaha menghindar dan membuat saya harus rela tersentak dengan suara klakson kendaraan dibelakang saya yang juga harus mengindari gerakan reflek saya ketika mengendari botol plastik yang sengaja dilempar itu. Ada fikiran liar saat itu, saya ingin mengejarnya dan melabrak si pelempar botol. Namun saya urungkan karena sudah ketinggalan jauh. Dari belakang terdengar suara botol minuman itu terlindas kendaraan lain yang semakin samar saat saya semakin menjauhi botol itu. Perasaan saya saat itu benar-benar sangat ingin berkata kasar. Saya marah pada sang pelempar sampah. “Kota Ku Bukan Tempat Samah Woy, Kampr..t” umpat ku dengan suara yang hanya bisa saya dengar sendiri meski dengan volume yang sedikit keras.

Hari selanjutnya, saya sedang mengendarai sepeda dan di samping saya ada beberapa anak perempuan berboncengan. Tampak itu adalah dua mahasiswi yang sedang berangkat entah kemana. Berpakaian kerudung putih dengan jas salah satu universitas ternama di daerah saya dan rok hitam. Motor yang mereka kendarai adalah motor matic. Di perempatan, lampu lalu lintas berwarna merah, mahasiswi yang mengendarai motor terlihat mengampil botol minuman di bagasi depan motornya sembari menunggu lampu kembali hijau. Mereka juga sedang asik berbincang-bincang, entah apa yang mereka bicarakan. Tampak sang mahasiswi yang mengendarai motor memberikan sisa minuman kemasan itu ke kawan mahasiswi yang diboncengnya. Mahasiswi ini kemudian menghabiskan minuman itu (entah habis atau tidak?). Botol itu masih erat di tangan mahasiswi yang di bonceng ketika lampu kembali hijau. Beberapa meter setelah berjalan dan, “klotak”, wah ni anak bener-bener deh, sudah bisa baca tulis, bahkan riset aja masih buang sampah sembarangan. Saya yang mengambil jalur berbeda dengan kedua mahasiswi ini hanya bisa bergumam “sialan lo, gak pernah dengar tempat sampah?”. Sangat menyebalkan ketika saya berusaha menjaga kebersihan dengan cara sederhana yakni membuang sampah kita di tempat yang tepat, namun pas di depan mata kita, justru ada seseorang yang dengan kesadaran penuh melakukan tindakan membuang sampah sembarangan. Wushh… rasanya bener-bener seperti ada angin panas yang membuat saya ingin marah-marah.

Ada yang lebih parah. Ketika saya mengendarai motor. Dari kejauhan terlihat seorang anak tk di dalam pegangan tangan ibunya asyik memakan yang tampak seperti es krim. Kejadiannya sebenarnya lucu, namun membuat nyesek, es krim di genggaman anak ini jatuh, saya sempat tertawa karena memang nih anak sebenarnya masih lucu-lucunya. Tampak si anak memanggil-manggil ibunya untuk memberi tahu bahwa es yang dimakannya jatuh. Nih… omongan orang tua yang membuat saya seolah masuk dalam dunia fantasy, seolah berharap ini tidak pernah nyata, berharap ini hanya mimpi, saya merasa ada dalam dunia yang aneh. “Sudah, di buang saja, nanti beli lagi” kata ibunya. “di buang dimana?” tanya sang anak, pertaanyaan ini sebenarnya jelas menjadi kesempatan terbaik untuk mengenalkan pada anak tentang fungsi tempat sampah yang benar. Tapi,  “Sudah, buang disitu” jawab ibunya dengan menunjuk bahu jalan, seolah bahu jalan itu bisa meneleportasi sampah menuju tempat yang tepat (ngayal). “siaaa…l” gumamku, masih ada juga orang tua yang berat sekali memberi tahu fungsi tempat sampah.

Tempat sampah seolah sekarang semakin bersih saja. Karena posisinya sudah di ganti dengan bumi yang lebih luas. Entah apa sebenarnya yang terjadi masalah. Secantik apapun tempat sampah bersolek, sekarang benar-benar tidak menarik untuk digunakan bahkan dilirik. Ketika rumah kotor sibuk membersihkan sampai kinclong, sampai kucing saja tak boleh melihat. Baru lewat depan pintu saja sudah buru-buru di usir. Tapi entah mengapa di tempat umum yang merupakan tempat bersama dengan banyaknya tempat sampah dengan bentuk dan warna yang unik-unik, justru menjadi tempat untuk menunjukkan bahwa buang sampah sembarangan itu biasa. Percuma sekolah tinggi mulai dari tk hingga doktor kalau membuang sampah saja masih sembarangan. Apa perlu di sekolah ada pelajaran khusus cara membuang sampah yang benar, cara mengolah sampah yang benar agar supaya mereka menyadari betapa pentingnya membuang sampah pada tempatnya. Sampah-sampah, kamu yang sederhana itu saja masih disederhanakan. Kalau sampah marah, sungai bisa dihentikan dan dirubah alirannya ke rumah-rumah kita. Kalau sudah begitu semua sibuk ngomong yang bikin mampet sampah. Ya… sudahlah.

Menjelang tidur, Geram berhari-hari lihat orang buang sampah sembarangan

Be Sociable, Share!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *