ORGANISASI SAYA MUHAMMADIYAH, MASALAHNYA KENAPA???

Banyak berita, cerita maupun pernyataan yang saya temukan dan menjadi pembahasan hangat dimanapun saat ini adalah terbentur nya 2 organisasi besar di Indonesia. Organisasi tersebut merupakan organisasi islam. Benar, Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Kedua organisasi terbesar di Indonesia ini sedang terbentur entah disengaja atau tidak. Namun efeknya begitu terasa hingga ke sosial kemasyarakatan. Yang biasanya tidak ada masalah dalam berkumpul dengan perbedaan organisasi sekarang berusaha saling menjauh bahkan saling sindir menyindir meski hanya dalam bentuk guyonan dan dalam kalangan internal organisasi semata.

Benturan yang terjadi kebanyakan karena masalah kenegaraan yang sebenarnya sangat mendasar. Yakni toleransi umat di Indonesia. Kita semua tahu sejarah Indonesia bagaimana terbentuk karena toleransi. Karena bersatunya perbedaan menuju satu tujuan yakni kemerdekaan. Namun, setelah kemerdekaan semua berubah menjadi bersatu menuju negara digdaya dan maju. Setelah lama hidup dalam damai dengan segala macam perbedaan pendapat, keyakinan bahkan perbedaan organisasi pun, kini ada sedikit guncangan dengan terbentur nya perbedaan yang berakibat pada saling sikut secara tak kasat mata.

Negara Kesatuan Republik Indonesia sebenarnya sudahlah final. Pancasila pun sudah final tak perlu diganggu-gugat. Namun sedikit perbedaan pendapat yang bermula dari kisah sang gubernur keturunan tionghoa, menjalar hingga benturan kisah terduga makar melawan penjaga negara. Bahkan mengerucut menjadi cerita radikal bertarung dengan toleran. Sangat miris melihat apa yang terjadi. Meski tidak hanya melibatkan satu atau dua organisasi semata, saat ini semua mata tertuju kepada dua organisasi besar Indonesia Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.

Nahdlatul Ulama resmi menjadi organisasi islam terbesar di dunia dengan jumlah anggota terbanyak. Muhammadiyah menjadi organisasi besar pula di dunia karena memiliki amal usaha yang banyak pula. Keduanya berada di negara yang lahir dengan toleransi. Keduanya merupakan penyumbang tokoh kemerdekaan. Sekarang seolah menjadi buah bibir karena mereka sedang terbentur karena perbedaan pendapat. Sebenarnya bukan masalah perbedaan pendapat itu terjadi, namun ekspose media yang berlebihan mempengaruhi kondisi sosial kemasyarakatan. Mereka mulai termakan bahasa media yang sebenarnya kedua organisasi tersebut tidak mempermasalahkan perbedaan pendapat itu.

Kondisi seperti ini sangat membuat kegaduhan di kalangan bawah dari masing – masing organisasi. Mereka menjadi korban saling sindir dan saling olok akibat pemberitaan berlebih – lebihan media akan perbedaan pendapat antara kedua organisasi islam terbesar di Indonesia tersebut. Sangat tidak menutup kemungkinan ini bisa menjadi efek buruk bagi kelangsungan toleransi. Damai nya perbedaan yang terjalin selama bertahun – tahun terancam hanya karena semakin kerasnya dengungan media dalam mengumbar perbedaan pendapat menjadi sebuah berita yang ditujukan untuk meningkatkan rating.

Berita seharusnya informatif bukan justru mencari rating semata. Jika memang ada prestasi umumkan, jika memang ada yang salah katakan, jika memang ada yang benar beritakan, semua harus berbunyi mendamaikan. Jangan membuat berita yang bertujuan menaikkan rating semata. Media harum menjadi mitra perdamaian di kalangan masyarakat. Jangan ada lagi ungkapan – ungkapan sinis semacam “Saya Nahdlatul Ulama, memangnya kenapa?” atau “Saya Muhammadiyah, Memangnya Kenapa?”. Sekian.

#mencobabaik

Be Sociable, Share!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *