MERUBAH CARA, TAK PERLU IKUT MENGUTUK

Belakangan ini ramai dengan demam dilan yang dipernakan oleh anak muda berbakat yakni Iqbaal Dhiafakhri Ramadhan. Seorang anak remaja yang lahir di Surabaya tahun 1999. Film yang berjudul Dilan dan diperanannya menedot lebih dari 6 juta penonton. Hinga menimbulkan sebuah demam Dilan dan muncullnya ribuan meme. Ada yang mendukung dan ada yang kontra. Yang pro kebanyakan memang anak remaja putri yang memang sudah sejak lama ngefans dengan sosok Iqbaal. Kini Dia menjadi maghnet yang cukup kuat bagi remaja yang memang sedang menikmati masa remajanya. Sangat disayangkan ketika prestasi yang ditorehkan Iqbaal dalam perannya di film Dilan menjadi sebuah alasan bagi kaum kontra untuk ikut mengejar berbagai celah kesalahan dengan mengambil berbagai macam jalan untuk ikut berperan menjadi hatters dengan dalih meluruskan.

Tujuan mereka memang tidaklah salah, namun cara yang menurut saya sedikit membosankan dan membuat para remaja tidak perduli dengan itu. Ribuan meme membandingkan sosok Dilan dengan sosok tokoh. Atau mungkin menggunakan berbagai macam kata unik Dilan yang diubah dan banyak lagi. Tekanan dari kaum kontra seolah tidak sedikitpun membuat para remmaja untuk berhenti memuja sosok Dilan. Bahkan seolah makin menjadi serta mengabaikan beribu cara menyampaikan kebaikan yang kurang tepat.

Sangat miris mendengar salah seorang fans ketika saya sedikit bertanya tentang Iqbaal. Sebagian besar mereka menjawab bahwa karena pesona fisik. Ketika sedikti saya sentil masalah banyaknya orang yang mengkritik Iqbaal, jawaban luar biasa namun membuat miris keluar. Mereka dengan bangga mengatakan bahwa tidak peduli, mereka yang ngomong itu iri dengan kita karena mereka tidak bisa seperti kita yang bisa suka dan ngefans sama seseorang dengan bebas. Setidaknya mereka merasa tidak memboohongi hati mereka untuk sok baik dengan memojokkan pihak lain seolah pendapatnya benar, padahal belum tentu. Saya sempat diam mendengar jawaban semacam itu. Sedih karena mereka seolah ngefans dengan cara buta dan tuli. Mereka seolah buta akan prestasi lain dari sosok yang mereka idolakan. Mereka tuli dengan kehebatan laindari orang yang mereka idolakan.

Dalam kasus Iqbaal ada yang menarik. Dia adalah anak berprestasi lulusan Armand Hammer United World College of the American West, Montezuma, New Mexico, USA (2016-2018). Dengan ketenarannya dan berbagai pro kontra yang ada, ternyata Dia adalah anak yang cerdas. Hal ini dimanfaatkan dengan baik oleh salah satu Bimbel (Bimbingan Belajar) online terbaik di Indonesia saat ini yakni Ruang Guru. Iqbaal di jadikan Brand Ambassador Bimbel ini memang terlihat jelas untuk menaikkan pamor Ruang Guru. Tapi bagi saya ini sangat baik sekali. Menngapa? Karena bisa mebuat banyak remaja bersemangat untuk belajar.

Setidaknya ketika kita berfikir untuk merubah suatu kondisi bukan dengan ikut memojokkan seubah permasalah. Setidaknya berusaha berfikir berbeda dari hatters-lah jangan ikut menjadi hatters. Bisa dibayangkan bagaimana semangat ara remaja ketika mereka benar-benar tahu bahwa Iqbaal adalah anak yang cerdas dan tidak pernah malas belajar. Bagaimana jadinya ketik Iqbal yang cerdas diajak untuk mengkampanyekan pada para remaja tentang pentingnya belajar. Tentu akan sangat menjadi bentuk motivasi serta dorongan untuk para remaja supaya giat bersekolah.

Setidaknya marilah berfikir dengan cara berbeda, tidak perlu ikut menambah daftar celaan untuk seseorang yang sedang menjadi pusat perhatian.

Kamar, Saat memikirkan pro kontra film Dilan

Be Sociable, Share!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *