Mereka nggosip

Kamis, 26 Juli 2018. hari ini ada 2 orang yang sedang asik berbicara sembari menunggu hasil cetakan selesai. Entah apa sebenarnya yang mereka bicarakan. Yang jelas itu sebuah pembicaraan yang mengarah ke sebuah gosip. Saya tidak mendengar begitu jelas apa yang mereka gosipkan. Hanya saja saya mencoba melihat setiap gerak-gerik mereka dalam menggosip. Ternyata mereka tidak peduli dengan keberadaan saya dan rekan-rekan kerja saya. Mereka begitu asik berbicara. tak masalah sih, hanya seperti merasa tak dianggap saja keberadaan saya. heheh

Yang jelas mereka begitu semangat membicarakan orang, entah siap orang lain itu. Mungkin teman, mungkin kawan. Mungkin juga orang yang sedang dianggap musuh. Tidak penting siapa yang mereka bicarakan. Saya berusaha untuk tidak mendengarkan. Apa daya saya punya telinga yang masih sehat. jelas terdengarlah. Saya hanya berusaha tidak peduli naun sangat miris. Karena pembicaraan justru mengarah menjatuhkan. Yang sangat tidak sportif adalah dengan melakukannya ketika ada orang lain disekitarnya yang juga mendengar.

Ya beginilah hidup. Terkadang aib begitu saja menyebar dengan mudahnya tanpa terbendung karena gosip yang dengan tanpa sadar mereka lakukan di depan umum karena terbiasa. Mereka seolah mengganggap orang lain seketika tidak memiliki telinga ketika pada kata pertama dalam sebuah pembicaraan gosip mereka sebut. Hidup seolah seperti sebuah magik atau istilah sederhanyanya sulap. Niat menggosip adalah sebuah mantra yang membuat sekitar menjadi sibuk dengan sendirinya dan hilang pendegarannya. Sangat menyedihkan, mereka melakukan itu seperti sudah terbiasa. Dan mungkin mereka sedang tidak berfikir tentang dampak. Hanya nafsu untuk puas karena sudah ada orang lain yang akan tahu.

Saya jawab dulu sebelum kalian bertanya siapa dan apa yang mereka bicarakan. Saya tidak mengenal mereka sama sekali, ya sama sekali tidak mengenalnya. Wajahnya cantik tapi saya urungkan niat saya memuji kecantikannya. Hahaha. Apa yang mereka bicarakan, saya sangat tidak mengerti, tidak tahu dan tidak mau mengerti serta tidak mau tahu. Yang saya dengar hanya sebatas omongan yang seperti sengaja ditinggikan oleh mereka. Dan kata itu adalah kata-kata kasar yang saya kira tidak perlu saya sebutkan. Ada beberapa nama yang mereka sebut meski tidak begitu jelas. Saya juga tidak berusaha tahu. Hanya saja saya punya telinga untuk mendengar dan masuk ke hati yang membuat saya seolah tertarik dengan gaya yang cukup besar untuk mengomentari. Saya juga punya mata yang jelas mereka terlihat bergosip dengan percaya diri dan santai seolah akibat dari yang mereka lakukan tidak ada.

andai saya tahu siapa mereka atau minimal mengerti apa yang mereka bicarakan. Dan saya percaya, entah nasib orang yang mereka bicarakan akan seperti apa. Karena saya pasti menjadi orang yang tahu selain mereka. Yang begitulah simulasi bagaimana proses sebuah aib tersebar karena sebuah pembicaraan gosip.

 

Tempat Kerja, saat keberadaan saya tidak dianggap pelanggan

Be Sociable, Share!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *