MENGENANG OPTISME SAYA TERHADAP PAK ANIES BASWEDAN BEBERAPA TAHUN LALU

Gubenur DKI Jakarta saat ini adalah orang yang beberapa tahun lalu sangat saya harapkan untuk bisa bersaing dengan Pak SBY saat pemilu 2010. Saya mulai mencari informasi tentang beliau kala saya mendengar indonesia mengajar. Ada nama Anies Baswedan yang muncul di situ. Saya mulai mencari-cari informasi lebih dalam saat beliau menasbihkan diri untuk siap maju dalam pilpres 2010. Dengan bekal infomasi yang ada saya akhirnya sangat mendukung beliau untuk maju, bahkan saya siap memilih beliau. Meski akhirnya gagal, saya masih menaruh harapan besar terhadap beliau.

Tahun 2014 saya masih berharap beliau maju. Dan ternyata beliau juga menyetakan siap untuk maju. Dan saya sangat ingin segera melihat beliau resmi dicalonkan. Dan ternyata masih juga gagal harapan saya. Harapan saya sedikit terobati ketika beliau diangkat oleh presiden terpilih saat itu yakni Pak Joko Widodo untuk menjadi Mentri Pendidikan. Meski saya tidak mengikuti perkembangan kementrian pendidikan saat dipimpin Pak Anies. Setidaknya saya masih bisa melihat beliau masuk dalam jajaran mentri dari pemerintahan. Namun, ternyata beliau tergusur tanpa saya mengerti ada apa dan mengapa???

2017 beliau maju menjadi calon gubernur DKI Jakarta bersaing dengan petahan Pak Basuki Cahya Purnama. Ramai sekali saat itu. Pak Basuki yang akhirnya harus di tuntut oleh ribuah orang muslim karena dianggap melecehkan agama Islam, akhirnya harus rela masuk bui. Pak Basuki harus rela pula kalah dari Pak Anies. Saya sendiri tidak tertarik dengan kegiatan demo mengenai pelecahan agama itu. Jikalau saya warga jakarta saya sudah pasti memilih Pak Anies tanpa ada embel-embel masalah agama. Saya menjadi pendukung Pak Anies bukan sejak Jakarta dan masalah pelecehan agama. Saya sudah sejak Pak Anies menyatakan siap maju menjadi calon presiden tahun 2010 lalu.

Ketika beliau menjabat sebagai Gubernur DKI saya sebenarnya antara senang dan tidak. Bukan karena tidak setuju, melainkan karena harus rela bahwa Pak Anies hanya akan lebih fokus pada perkebangan dan kemajuan DKI. Namun, saya menyadari bahwa mungkin beliau memang jodoh di situ, dan saya merelakannya. Pertanyaannya, apakah saya masih mendukung belaiu?? Jelas jawaban saya IYA. Banyak ribuan orang menganggap bahwa terpilihnya Pak Anies adalah karena SARA, Pak Anies sendiri tak pernah melakukan SARA. Kalau oknum yang mendukung beliau saya tidak pernah tahu. Jangan tanya Pak Anies, tanya yang melakukan lah.

Tahun ini yakni pertengahan tahun 2018 saya sempat menginginkan agar Pak Anies mau maju menjadi capres dan merelakan status gubenur di DKI. Namun, itu merupakan harapan saya palin BODOH. Dan saya berusa berfikir kembali dengan jernih. Nampaknya Pak Anies lebih baik menyelesaikan tugasnya dulu di DKI, menjadi gubernur hingga selesai. Hal itu membuat saya harus mencari pengganti dukungan selain Pak Anies. Sempat ada beberapa nama muncul dalam bayangan saya siapa yang pantas untuk saya pilih menajdi presiden di pemilu 2019 nanti. Dan….. tidak ada satu nama pun dari orang-orang yang sudah terbayangkan oleh saya masuk menjadi calon presiden.

Sementara untuk Pak Anies, saya sangat mendukung anda untuk menjadi presiden. Namun ternyata Bapak harus bertugas di wilayah yang dimana saya tidak tercakup di dalamnya. Apa saya kecewa? Pasti.  Namun saya pastikan bahwa kekecewaan saya tidak akan pernah menurunkan harapan saya terhadap konsep-konsep cerdas Bapak dalam mengelola wilayah bahkan negara nantinya. Semoga sukses Pak di DKI, saat ini saya hanya bisa mendo’akan yang terbaik untuk Bapak. Selesaikan tugas Bapak dengan sebaik-baiknya, dan saat itu terjadi harapan saya pasti akan terus tumbuh.

Sebuah Cafe, Sedang Memikirkan Jakarta

Be Sociable, Share!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *