MAAF BANG DAHNIL, SAYA TAK SEPAKAT

Dahnil Anzar Simanjuntak adalah sosok yang akhirnya saya tunggu-tunggu selama saya berorganisasi di dalam Pemuda Muhammadiyah.  Sosok yang berani menentang segala bentuk kemunafikan dan kemungkaran yang sering melanda negri tercinta Indonesia. Gaya anak muda yang sangat unik, seolah mengatakan pada seluruh kaum muda bahwa anak muda tidak hanya bisa mengikut saja. Bang Dahnil menunjukkan bahwa pemuda harus memiliki prinsip yang kuat. Harus berani melawan ketidakadilan. Berusaha berjuang dengan membantu berbagai pihak yang terpinggirkan haknya, Bang Dahnil akhirnya menjadi sosok yang amat saya kagumi. Sampai saat ini pun saya begitu kagum dengan beliau.

Berkali-kali beliau tak sungkan untuk ikut membagi makan gratis secara langsung di warung duafa setiap selesai sholat jum’at. Sebuah pelajaran menarik dari seorang pemimpin sekelompok pemuda yang menurut saya jarang ada. Saya pernah kecewa karena tidk bisa berfoto dengan beliau ketika datang ke Kota Batu untuk mengisi acara kajian rutin. Hahaha… wajar karena bagi saya beliau sudah menjadi salah satu idola saya dalam menjadi anak muda. Terlepas dengan statusnya menjadi Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, saya mengagumi berbagai cara beliau dalam mengkritik ketidakadilan dengan cerdas. Tidak perduli siapa yang di kritik, Bang Dahnil benar-benar menunjukkan bahwa sikap pemuda harusnya tidak apatis terhadap ketidakadilan yang terjadi di Indonesia.

Terlebih ketika beliau melakukan sikap yang tegas dengan ikut terus mengawal kasus Novel Baswedan yang sampai sekarang entah di bawa kemana arahnya. Namun saya melihat Bang Dahnil terus berusaha mengawal bersama teman-teman yang lain. Bang Dahnil juga selalu berusaha menciptakan dakwah yang menggembirakan. Sebuah gagasan dakwah yang jarang terdengar. Saya juga sempat bangga dengan perkataan Bang Dahnil “untuk yang amar ma’ruf biar di urus Bapak-Bapak Muhammadiyah saja, yang nahi munkar ini harus di urus sama Pemuda Muhammadiyah” sebuah ide yang unik dan sangat berani.

Keunikan Bang Dahnil yang membuat saya sangat mengidolakan beliau adalah Vespa. Hahahahah… sebuah motor yang saya mimpikan untuk saya miliki tetapi belum kesampaian. Bahkan beliau pernah mengadakan tour menggunakan vespa dengan jargon “Ekspedisi Kebangsaan, Menggembirakan Keberagaman”. Gagasan ini kembali membuat saya terkagum-kagum dengan sosok Bang Dahnil.

Namun, sama seperti idola saya yang lain. Saya juga merasa kecawa dengan keputusan Bang Dahnil. Saya merasa ada yang salah dengan keputusan Bang Dahnil dengan masuk dalam tim pemenangan calon presiden Prabowo-Sandi. Bukan karena saya ingin Bang Dahnil mendukung Jokowi-Ma’ruf. Bukan pula karena saya yang mendukung Jokowi-Ma’ruf. Saya termasuk orang yang masih abu-abu dengan 2 calon presiden yang akan bersaing merebut kursi presiden. Entah mengapa saya merasa sedikit bosan saja. Merasa banyak calon yang sebenarnya bagus harus rela gugur sebelum bersaing. Mungkin karena efek kekecewaan saya karena beberapa orang pilihan saya tidak muncul kepermukaan.

Saya merasa Bang Dahnil tidak harus ikut turun tangan menjadi Tim Pemenangan. Saya hanya berharap Bang Dahnil menjadi orang yang tidak secara terang-terangan menunjukkan dukungan. Bagi saya sosok Bang Dahnil lebih cocok untuk memaksa kedua calon menyampaikan dan membuktikan janji-jani mereka. Menurut saya Bang Dahnil sangat pas bila berada diposisi seperti itu. Menjadi contoh pemuda yang berusaha mencari mana yang terbaik diantara yang terbaik selama masa kampanye.

Saya bisa membayangkan ketika dalam sebuah debat calon misalnya, Bang Dhanil berdiri dan bertanya kepada kedua calon presiden dengan pertanyaan-pertanyaan krits, rumit dan sulit bagi kedua calon, memaksa calon harus menjawab dengan cara yang tepat agar bisa memuaskan banyak orang. Tetapi ternyata Bang Dahnil lebih memilih untuk terburu-buru menentukan pilihan. Yang menurut saya sedikit aneh, bukan kelihatan Dahnil Anzar Simanjuntak-nya.  Menurut saya Bang Dahnil lah yang cocok untuk menunjukkan pada generasi muda untuk memilih yang terbaik ketika sedang ramai masa kampanye, kalau Bang Dahnil ikut kampanye di salah satu calon, jadinya ya…. “Pupus Sudah Harapan Saya”

Bang Dahnil kekecewaan saya tidak pernah merubah sedikitpun kebanggaan saya terhadan Bang Dahnil. Saya masih tetap mengidolakan anda. Saya juga tidak pernah menasbihkan diri untuk menghujat beliau dengan keputusannya tersebut. Saya tidak pernah merasa bahwa idola saya harus selalu sesuai dengan apa yang saya harapkan dan inginkan. Karena Bang Dahnil pun juga punya harapan dan keinginan sendiri. Saya juga bukan tipikal orang yang mengidolakan seseorang dengan mengikuti segala tidakan dan keputusannya. Saya bukan pengidola yang fanatik. Jadi Bang Dahnil saya bolehkan kecewa dengan anda, hehehehe…

Semoga Bang Dahnil sukses dengan keputusan yang satu ini. Sementara saya masih berusaha melihat-lihat. Jika memang Bang Dahnil bisa merubah kekecewaan saya, mungkin pada akhirnya saya akan ikut dengan Bang Dahnil untuk mensukseskan Prabowo-Sandi, tapi jika memang tidak ya… saya mencoba di pihak lain. Dan apabila pihak lainpun tidak menarik bagi saya, entahlah kemana lagi pilihan saya nanti, hehehe….

Salam hangat dari Keberagaman Bang Dahnil, Anda tetap idola saya. Ijinkan saya menyampaikan uneg-uneg saya sebagai idola Anda.

Be Sociable, Share!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *