IRITASI RINGAN

Inspired by Fourtwnty

2018 adalah tahun yang perjalanan bulan – bulan awal sangat bercampr aduk. Dominasi besar adalah politik. Tahun ini adalah jembatan besar masyarakat menuju hari besar politik 5 tahunan. Tidak sedikit ada yang jenuh hingga berbagai macam hoak disebar karena memang itulah asupan yang pas atas monotonnya political war yang sedang terjadi dan dinikmati oleh sedikit orang. Saya termasuk yang mana saya tidak paham. Mungkin saat ini saya termasuk yang sedang menikmati meski sebenarnya tidak begitu nikmat menonton segala adegan di drama political war ini.

 

Debu yang berterbangan

Sebagian besar pemeran dalam drama political war adalah para pesohor negeri yang jelas memiliki berbagai kekuatan untk membuat setiap frame tontonan menjadi sarapan, makan siang dan makan malam yang enak untuk di santap. Usaha yang sebenarnya sia – sia karena bukan itu yang penikmat inginkan. Namun para lakon tak pernah ambil pusing, prinsipnya sederhana biasakan makan mereka akan terbiasa. Dan para lakon akhirnya mendapatkan itu. Drama sudah menjadi biasa dan biasa – biasa saja. Tontonan sekarang beralih ke pelakor yang sering dijadikan candaan dan menjadi viral di tanah bermartabat Indonesia ini. Pelakor katanya adalah pencuri laki orang. Dengan dalih ingin mencukupi kebutuhan tak jarang mereka berusaha untuk mendapatkannya dengan berbagai cara dan yang viral adalah menjadi pelakor. Ada juga berbagai macam hal viral seperti motor modifikasi yang baru di beli Presiden, Kegiatan tinju Presiden, Dilan 1990, supermoon, Artis tertangkap karena kasus narkoba, smapai artis ganti nama panggun dan basih banyak lagi.

Ada salah satu scane yang masuk frame drama awal tahun ini. Pulanggnya Novel Basweda ke tanah air dengan masih kelamnya kasus yang menimpanya.  Sambutan seolah hanya sebentar, dan para lakon utama seolah tak mau terganti oleh lakon yang seharunya diutamakan. Kepulangan Novel seolh hanya sebuah Breaking news yang cukup sekilah untuk di nikamti. Miris, debu-debu itu bertebaran di hadapan penikmat drama awal tahun 2018.

 

Merusak penglihatanku

Jutaan debu itu seolah erusak penglihatan. Seperti rusaknya mata Novel Baswedan. Penikmat lebih memilih menikmati drama palsu dalam kepalsuan. Berusaha tenang menanti itu dengan drama political war yang terus menjadi selingan utama. Membuat para penikmat terbiasa seolah menjadi santapan sehari – hari. Pandangan tak lagi netral. Mata tak lagi mammpu memandang mana benar mana salah. Mana hitam mana putih. Mata hanya bisa melihat keberadaan bukan kenyataan. Lakon political war yang terus terang tampak membantu tapi penikmat masih tak terbantu.

 

Membungkus peran fikirku

Kebiasaan yang di biasakan menjadikan sebuah selembar kertas  bungkus yang akhirnya mampu membungkus sebuah fikiran untuk tidak lagi meluas dan melebar. Tontonan palsu dalam kepalsuan seolah menjadi bagian yang pasti dan benar. Tak ada yang peduli dengan bagian luar bungkusan. Fikiran terbungkus rapat oleh drama yang sudah menjadi biasa dan dibiasakan.

 

Asumsi bertebaran

Minor dan termakan zaman

Ribuan asumsi diciptakan untuk dijadikan sebuah kbenaran palsu. Fakta tak lagi kebenarana alami melainkan bisa diciptakan. Asumsi menjadikan semua bebas melakukan appapun, termasuk berpendapat apapun. Hoax tersebar dimana – mana. Tak lagi ada pencegah yang bisa menahan. Semua menjamur dan semakin meluas. Seolah penciptaan asumsi minor telah menjadi sebuah zaman.  Zaman ini benar benar telah memakan banyak korban.

 

Menjadikan pertengkaran

Semua yang terjadi akibat berbagai asumsi minor yang bebas bertebaran menimbulkan berbagai macam konfil bahkan pertengkaran. Bisa jadi akan menjadi sebuah pemicu perpecahan dan peperangan, wallahua’lam. Percikan – percikan konflik telah banyak terjadi. Media sosial menjadi bebas untuk menciptakan percikan itu. Perang di media sosial sudah menjadi berita biasa .

 

Melukis alam ditengah malam

Hujan datang malam tenang

 

Ajarkan ku tuk faham

Menyelam dalam peranmu

Pelajaran mana yang bisa memberikan pemahaman yang benar. Penikmat seolah dipaksa memahami lakon yang ditonton. Dipaksa untuk tahun kebenaran yang masih ambigu. Benar yang diciptakan oleh perusahaan tontonan. Bukan lagi kebenaran murni dan alami yang bisa dinikmati. Dipaksa paham akan hal yang sulit dipahami

 

Agar takkan terkotakkan ironi

Kosong tak terbantahkan

Penikmat dipaksa sama. Menjadi penikmat lakon yang sama. Tidak boleh bosan. Tidak boleh pilih – pilih. Cukup lakkon iitu saja yang muncul dan cukuplah itu benar dan benar yang ambigu.

 

Kita teman satu zaman

Jadilah duniamu

Ku jadi duniaku

Tak harus mencaci maki

Kita sama – sama gila

Hidup di zaman yang sekarang ini sangat berat. Dipaksa menjadi orang llainadalah hal biasa. Menjadi orang lain seolah sudah menjadi pilihan yang paling tepat. Saling iri adalah sifat yang biasa di zaman ini. Perang tidak lagi sesulit dulu dengan menyiapkan ribuan senjata. Sekarang prang cukup dengan jemari. Cukup dengan mulut dan cukup dengan pandangan yang semuanya jga bisa menjadi senjata yang amat mengerikan. Menjadi diri sendiri seolah sangat berat. Menjadi sirisendiri adalah bagian frame tontonan yang sangat pas untuk bahan caci maki. Kita memang sedang hidup di zaman hebat. Zaman dimana kita sama – sama gila.

Be Sociable, Share!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *