DILEMA DUNIA SEKOLAH DI TAHUN AJARAN BARU – KEMANA SAYA HARUS SEKOLAH ????

Memahami Sekolah

Sekolah menurut kamus besar bahasa indonesia adalah 1 bangunan atau lembaga untuk belajar dan mengajar serta tempat menerima dan memberi pelajaran (menurut tingkatannya, ada) — dasar, — lanjutan, — tinggi; (menurut jurusannya, ada) — dagang, — guru, — teknik, — pertanian, dsb: keluar — , sudah tidak belajar di sekolah lagi; pernah duduk di bangku — , pernah belajar di sekolah; tidak makan — , cak tidak mendapat pendidikan di sekolah; tidak terpelajar; 2 waktu atau pertemuan ketika murid diberi pelajaran: — mulai pukul setengah delapan pagi; 3 usaha menuntut kepandaian (ilmu pengetahuan); pelajaran; pengajaran: ia hendak melanjutkan — nya ke Jakarta; — nya tinggi, sudah banyak mendapat pelajaran; sudah masak — nya, sudah pandai benar. Menurut saya sekolah adalah kegiatan untuk merubah seseorang dari tidak bisa menjadi bisa dan dari bisa menjadi lebih bisa.

Sekolah menjadi sangat penting karena saat ini Indonesia sangat mengedepankan hasil dari sekolah yang telah dilakukan. Semacam ijazah dan nilai. Karena kebanyakan ijazah dan nilai sangat mempengaruhi proses kehidupan seseorang selanjutnya. Bagaimana tidak, saat ini orang yang memiliki ijazah tingkat tertentu seolah lebih mudah memperoleh kesempatan bekerja di suatu tempat tertentu dengan jaminan karir yang menggiurkan. Sementara orang yang hanya memiliki ijazah tingkat rendah seolah terasa begitu berat mendapatkan kesempatan tersebut, apalagi untuk orang yang tidak memiliki ijazah tersebut. Itulah sedikit gambaran yang ada di Indonesia saat ini. sekolah lebih menjadi syarat untuk mendapatkan status dan selemar kertas bernama ijazah. Sekolah seolah menjadi jalan memperoleh status yang lebih tinggi dari yang lain guna mendapatkan posisi yang lebih dari yang lain. Sekolah mulai kehilangan tugasnya karena hanya mendewakan hasil bukan proses.

Meninjau Sekolah Yang Akhirnya Berkasta

Sekolah yang memiliki tingakat itu sudah benar menurut saya. Namun saat ini sekolah juga menjelma ke bentuk kasta. Sekolah yang betingkat ditambah lagi dengan status kasta favorit , semi favorit dan non favorit. Sehingga sekolah berlabel favorit tidak perlu lagi bersusah payah mencari murid dari pintu ke pintu karena bisa dipastikan antrean panjang para pendaftar calon murid sangat mengular tanpa ujung. Hal ni menjadikan kesempatan bagi sekolah favorit untuk melakukan tes dan seleksi guna memperoleh calon murid terbaik dan yang tak lolos atau dengan kata kasarnya tidak layak mereka buang mentah-mentah. Hingga akhirnya sekolah faforit hanya memberi tempat bagi murid yang sudah bisa bukan yang belum bisa. Dan ini menghilangkan fungsi sekolah yang seharusnya menjadi tempat belajar bagi orang dari yang tidak bisa menjadi bisa.

Sementara, sekolah semi favorit juga sebagian mendapatkan kesempatan melakukan hal yang sama seperti sekolah favorit lainnya ketika kondisi sekolahannya (baik fasilitas maupun biaya) bisa dikatakan sama dengan sekolah favorit. Melakukan tes dan seleksi meski hasil atau lungsuran (sisa) dari para calon murd dari sekolah favorit yang tidak lolos. Mereka bisa dikatakan masih mampu bersaing dengan sekolah favorit. Dan menjadi sekolah favorit kedua dan begitu terus semacam kasta. Berbeda dengan sekolah non favorit yang harus disibukkan mencari murid dari pintu ke pintu. Berusaha bertahan dan tetap mendapatkan murid meski sekolahannya apa adanya. Bahkan ribuan formulir yang disediakan sekolah-sekolah favorit seolah masih kurang dan sekolah yang non favorit yang ini membuat formulir dua puluh dan habis saja sudah bersyukur.

Fenomena inilah yang banyak terjadi di Indonesia. Sekolah menjadi sebuah tempat untuk menunjukkan status sosial awal sesorang. Dimana sekolah favorit adalah sekolah bagi orang-orang terpilih. Sementara non favorit adalah sekolah yang diperuntukkan bagi para murid yang terpaksa. Ini sangat mengheranan status dan tugas sekolah yang memudar karena kapitalisasi bentuknya.

Sekolah seolah menjadi sangat bangga mengatakan bahwa telah meloloskan murid sekian dan tidak meloloskan murid sekian. Diumbar kemana-mana dengan dalih menginformasikan. Sementara, banyak sekolah yang gurunya disibukkan mencari murid kesana-kemari. Tidak lagi sempat menyiapkan tes dan seleksi. Sekolah yang tergolong non favorit tersebut merasa menemukan permata atau berlian ketika ada murid yang mau bersekolah ditempatnya. sekolah non favorit menjadi sangat tertekan ketika tahun ajaran baru karena merupakan kondisi dimana sekolahan tersebut harus benjuang mencari murid bukan menunggu murid. Sekolah menjadi ajang untuk menunjukkan status seseorang.

Beruntung bagi murid yang bisa dan pintar secara pelajaran. Mereka memiliki peluang besar untuk ada di sekolah favorit. Namun, apa daya bagi murid yang terbilang belum bisa harus mengalah dengan terpaksa memilih sekolah di sekolah semi favorit atau non favorit. Jika ini terus berlanjut makan kemana lagi murid yang tidak bisa untuk bersekolah. Apa hanya sekolah non favorit saya yang harus menerima murid yang tidak bisa, sehingga harus menjadikannya menjadi bisa dan tugas sekolah favorit adalah membisakan yang sudah bisa. Apa guna sekolah kalau semacam itu???.

Mana sekolah yang sesungguhnya kalau semacam itu???. Benarkan bisa dikatakan jika sekolah favorit itu adalah sekolah yang sesungguhnya, ketika murid baru yang mau masuk saja harus diseleksi. Kalau alasannya pendaftar yang membludak, kenapa bukan siapa cepat dia dapat yang diterapkan. Kenapa harus seleksi dan tes. Apa memang sengaja ingin meningkatkan status sekolah menjadi sekolah pilihan. Apa karena ketika ada lomba bisa dipastika sekolahannya yang akan menjadi juara.

Marilah kita kembalikan kembali fungsi dan tugas sekolah. Sekolah adalah tempat orang belajar dari tidak bisa menjadi bisa dan dari bisa menjadi lebih bisa. Sekolah adalah tempat untuk belajar menjalani tes hiduo yang sebenarnya, seleksi hidup yang sebenarnya. Mengapa sekolah sebagai tempat belajar harus di tes dan diseleksi terlebih dahulu. Tidak heran jika sekolah non favorit tidak pernah berubah statusnya menjadi sekolah favorit. Karena muridnya saja hasil sisa dari pilihan sekolah favorit.

Kalau memang seperti ini terus, maka jangan harap sekolah favorit menjadi sekolah yang nyaman. Karena itu akan menjadi tekanan bagi sekolah favorit. Sekolah yang memperoleh murid pilihan akan mendapat tuntutan yang banyak karena muridnya adalah yang terbaik. Mereka haru berada diposisi teratas secara konsisten. Jika melakukan kesalahan itu akan menjadi hal yang memalukan bagi sekolah favorit.

Be Sociable, Share!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *